"Halaman"

Kamis, 08 April 2010

puisi-ku

Lelaki Pemungut Receh
Oleh: OLIA ANDIKA


Siapa yang peduli ketika seorang lelaki tua
Duduk sendu bersandarkan tiang baliho ditepi jalan,
Bercu-cukan ember kecil yang penuh karna keringat
Tanpa ada yang ingin tahu beban dipundaknya…

Pagi yang menghantarnya kepada siang
Tak mengerti akan embun dimatanya
Hingga siang melahapnya dengan sigap
Tanpa tahu setumpuk harapan telah menunggunya
Dengan sebuah piring aluminium kosong…

Ketika senja merong-rong
Dia hanya bisa tergopohgopoh memasuki rumah
Seraya meletakkan ember disudut lemari usang
Merenung nasib dengan menghitung uang
Yang tak cukup untuk memperoleh sebutir beras…

Sampai kapan dia tahu,
Panas itu…
Hujan itu…
Kekerasan itu…
Bahkan pelecehan yang jadi sarapan pagi bagi dirinya
Dia takkan terpuruk oleh keadaan
Karna dia seorang lelaki pemungut receh,
Sampai senja berakhir…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar