Aku dan Tuhan
Oleh: Anwar Felix
Tuhan, masihkah Kau disini?
Menikmati semua haramku,
Sangat dalam, hingga Kaupun bersamaku.
Aku tak mau sepert ini,
Tapi, karna Kau telah bersamaku,
Aku kan mencicipi sedikit demi sedikit halal-Mu
Z-I-K-I-R
Oleh: Anwar Felix
Detik ini, kuhabiskan nafasku untuk berzikir
Demi Pemberi Masa dalam ruang,
Aku bersujud untuk menguntai zikir
Seketika terbayang para pendusta yang enggan berzikir,
Masih saja berpoya dalam kemaksiatan,
Tak kah dia tahu arti berzikir?
Zikir kepada Maha Empunya zikir
Blog ini milik seseorang yang tak pernah berhenti menulis, dan selalu bercita-cita untuk mengelilingi dunia berkat kegigihannya menulis. amiiiiinnnn...
Senin, 17 Mei 2010
APA KABAR BU?
( Mother, how are you today?)
OLEH: ANWAR FELIX
Ibu, ketika aku mengetahui bahwa aku sedang berada didalam rahimmu, aku sempat meminta kepada tuhan agar aku jangan dilahirkan. Aku tak ingin lepas dari wanginya kasih sayangmu yang selalu kau sisipkan dihatimu, hingga menghangatkan tidurku dan menghibur saat sepiku. Aku merasa belaian kasihmu dalam menjagaku. meski aku masih sebentuk janin yang tak ada artinya tapi kau rawat aku layaknya berlian yang berkilau. Aku bergulir bak bijaksananya waktu dalam istana yang tuhan sediakan untukku. Aku tahu diluar sana sungguh pengap karena itulah aku betah dalam rahimmu, ibu.
Ibu, sembilan bulan aku merenungkan keberadaanku didalam rahimmu. Tak seharusnya aku selalu menyiksamu dengan menyimpanku dalam rahimmu yang suci. Aku mulai menerima keputusan Tuhan untuk menitipkan ku padamu dibumi. Penuh haru aku menemuimu ditempat yang penuh dengan kemunafikan ini, hingga aku kaget sekali ketika melihatmu tegar dengan keadan yang mengkungkung hati dan nuranimu. Tapi setelah itu aku merasakan kebahagiaan yang lebih dibandingkan ketika aku berada dirahimmu. Kini aku bisa merasakan kehangatan dekapanmu dan melihat wajahmu yang teduh dan penuh kebahagian. Aku bertambah yakin, kau akan melindungi ragaku yang mungil ini dengan jiwamu yang tegar. Meski dunia ini sangat kejam sekali tapi aku tak khawatir karena aku punya ibu sepertimu.
Ibu, kini aku mulai mengenal dunia. Sosok yang sempat hadir itu telah mampu mempengaruhi jiwa dan pemikiranku. Oleh karena itu, aku merasa sepi ketika berdiri didunia ini. Seharusnya aku merasa bahwa aku anak yang kurang beruntung karna aku hanya memilikimu sedangkan temanku, mereka sempurna dengan hadirnya sosok seorang ayah. Tapi tak sedetikpun kesempatan untuk mengeluh itu aku hadirkan dalam hati dan pikiranku. Ibu, Aku iba padamu karna kau benar-benar membelit lelah sendiri. Kau bimbing semua masalahku hingga aku mearasa teduh disisimu. Sebesar apapun masalah yang aku hadapi, tampak tak berarti jika aku bersamamu, ibu. Kedudukanmu dalam hatiku benar-benar merangkap seluruh isi dunia ini. Meski sendiri, kau bisa mencukupi semua kehidupanku, adikku dan ibumu. Kami yang menjadi tanggunganmu benar-benar merasa bangga terhadap keikhlasanmu, meski lelah itu tak mampu lagi kau sembunyikan dari wajahmu. Tapi kau berusaha untuk menutupinya dengan gelak tawamu yang khas. Yang penuh dengan kehangatan dan rasa damai.
Ibu, akupun beranjak dewasa. Aku harus menentukan hidupku. Kini aku harus menuntut ilmu ditempat yang memberikan jarak antara aku dan dirimu. Semakin berkecamuk hatiku ketika aku dibelit oleh sebuah masalah tapi kau tak lagi disisiku. Aku hanya bisa mendengar suaramu yang teduh dan benar-benar memiliki kekuatan yang dashyat ketika memberikan semangat padaku, hingga aku mampu bangun kembali dan menerjang semua masalah ini dengan rasa sayang yang kau transfer melalui do’a-do’amu. Aku tahu sekali, betapa sepinya dirimu ketika anak-anakmu tak lagi berada didekatmu. Kau coba untuk tetap tegar dan semangat untuk membiayai hidup dan sekolah anak-anakmu. Meski kini kau sudah tak lagi sekuat dulu, tapi kau tetap tak peduli. Kau begitu bersemangat, walau panas mulai mengikis kulitmu dan malam mengkungkung ragamu hingga keriput.
( Mother, how are you today?)
OLEH: ANWAR FELIX
Ibu, ketika aku mengetahui bahwa aku sedang berada didalam rahimmu, aku sempat meminta kepada tuhan agar aku jangan dilahirkan. Aku tak ingin lepas dari wanginya kasih sayangmu yang selalu kau sisipkan dihatimu, hingga menghangatkan tidurku dan menghibur saat sepiku. Aku merasa belaian kasihmu dalam menjagaku. meski aku masih sebentuk janin yang tak ada artinya tapi kau rawat aku layaknya berlian yang berkilau. Aku bergulir bak bijaksananya waktu dalam istana yang tuhan sediakan untukku. Aku tahu diluar sana sungguh pengap karena itulah aku betah dalam rahimmu, ibu.
Ibu, sembilan bulan aku merenungkan keberadaanku didalam rahimmu. Tak seharusnya aku selalu menyiksamu dengan menyimpanku dalam rahimmu yang suci. Aku mulai menerima keputusan Tuhan untuk menitipkan ku padamu dibumi. Penuh haru aku menemuimu ditempat yang penuh dengan kemunafikan ini, hingga aku kaget sekali ketika melihatmu tegar dengan keadan yang mengkungkung hati dan nuranimu. Tapi setelah itu aku merasakan kebahagiaan yang lebih dibandingkan ketika aku berada dirahimmu. Kini aku bisa merasakan kehangatan dekapanmu dan melihat wajahmu yang teduh dan penuh kebahagian. Aku bertambah yakin, kau akan melindungi ragaku yang mungil ini dengan jiwamu yang tegar. Meski dunia ini sangat kejam sekali tapi aku tak khawatir karena aku punya ibu sepertimu.
Ibu, kini aku mulai mengenal dunia. Sosok yang sempat hadir itu telah mampu mempengaruhi jiwa dan pemikiranku. Oleh karena itu, aku merasa sepi ketika berdiri didunia ini. Seharusnya aku merasa bahwa aku anak yang kurang beruntung karna aku hanya memilikimu sedangkan temanku, mereka sempurna dengan hadirnya sosok seorang ayah. Tapi tak sedetikpun kesempatan untuk mengeluh itu aku hadirkan dalam hati dan pikiranku. Ibu, Aku iba padamu karna kau benar-benar membelit lelah sendiri. Kau bimbing semua masalahku hingga aku mearasa teduh disisimu. Sebesar apapun masalah yang aku hadapi, tampak tak berarti jika aku bersamamu, ibu. Kedudukanmu dalam hatiku benar-benar merangkap seluruh isi dunia ini. Meski sendiri, kau bisa mencukupi semua kehidupanku, adikku dan ibumu. Kami yang menjadi tanggunganmu benar-benar merasa bangga terhadap keikhlasanmu, meski lelah itu tak mampu lagi kau sembunyikan dari wajahmu. Tapi kau berusaha untuk menutupinya dengan gelak tawamu yang khas. Yang penuh dengan kehangatan dan rasa damai.
Ibu, akupun beranjak dewasa. Aku harus menentukan hidupku. Kini aku harus menuntut ilmu ditempat yang memberikan jarak antara aku dan dirimu. Semakin berkecamuk hatiku ketika aku dibelit oleh sebuah masalah tapi kau tak lagi disisiku. Aku hanya bisa mendengar suaramu yang teduh dan benar-benar memiliki kekuatan yang dashyat ketika memberikan semangat padaku, hingga aku mampu bangun kembali dan menerjang semua masalah ini dengan rasa sayang yang kau transfer melalui do’a-do’amu. Aku tahu sekali, betapa sepinya dirimu ketika anak-anakmu tak lagi berada didekatmu. Kau coba untuk tetap tegar dan semangat untuk membiayai hidup dan sekolah anak-anakmu. Meski kini kau sudah tak lagi sekuat dulu, tapi kau tetap tak peduli. Kau begitu bersemangat, walau panas mulai mengikis kulitmu dan malam mengkungkung ragamu hingga keriput.
Langganan:
Postingan (Atom)